Apakah Resistansi, Impedansi Dan Reaktansi ?

Resistansi, Impedansi Dan Reaktansi adalah hal yang sering didengar orang ketika mempelajari tentang rangkaian elektronika. Mengetahui definisinya akan mempermudah dalam memahami sifat-sifat arus listrik, komponen  dan melihat fungsinya dalam sebuah rangkaian. Tapi disini saya tidak menjelaskan secara teknis banget, hanya sekedar pengenalan dasar dan kamu bisa memperdalamnya ditempat belajar lanjutan nanti.

Memahami Resistansi, Impedansi Dan Reaktansi Dasar

Resistansi, Impedansi dan Reaktansi

Resistansi, impedansi, dan reaktansi, adalah konsep-konsep yang terkait dengan aliran arus listrik dalam suatu rangkaian.

Resistansi:

Ini mengukur hambatan terhadap aliran arus listrik dalam suatu rangkaian. Satuan resistansi adalah ohm, dan semakin tinggi resistansi, semakin sulit arus listrik untuk mengalir.

Reaktansi:

Ini mencakup dua elemen: reaktansi induktif dan reaktansi kapasitif.

Reaktansi Induktif (XL):

Terkait dengan peranti induktor dalam suatu rangkaian. Induktor cenderung menghambat perubahan arus, dan reaktansi induktif dinyatakan dalam ohm.

Reaktansi Kapasitif (XC):

Terkait dengan komponen kapasitor dalam suatu rangkaian. Kapasitor cenderung menghambat perubahan tegangan, dan reaktansi kapasitif juga diukur dalam ohm.

Impedansi:

Impedansi adalah kombinasi dari resistansi, reaktansi induktif, dan reaktansi kapasitif dalam suatu rangkaian AC. Impedansi diukur dalam ohm dan bersifat kompleks, karena melibatkan dua komponen: bagian resistif (resistansi) dan bagian reaktif (reaktansi).

Jadi, resistansi adalah hambatan langsung terhadap arus, reaktansi melibatkan elemen-elemen yang menyebabkan hambatan terhadap perubahan arus (induktor dan kapasitor), dan impedansi adalah kombinasi dari keduanya dalam rangkaian AC.
Dalam persamaan kompleks, impedansi (Z) dapat ditulis sebagai:

Z=R+j(XL−XC)

Di mana:

  • R adalah resistansi,
  • XL adalah reaktansi induktif,
  • XC adalah reaktansi kapasitif, dan
  • j adalah unit imajiner (dalam matematika,2=−1j(2)=−1).

Jadi, resistansi adalah hambatan langsung terhadap arus, reaktansi melibatkan elemen-elemen yang menyebabkan hambatan terhadap perubahan arus (induktor dan kapasitor), dan impedansi adalah kombinasi dari keduanya dalam rangkaian AC.

Hambatan(resistansi) terhadap aliran listrik

Mari kita pikirkan ini seperti resistansi terhadap aliran listrik dalam suatu rangkaian, tetapi dengan dua tambahan:

Reaktansi Induktif (XL):

Bayangkan induktor sebagai penghalang terhadap perubahan dalam aliran arus. Induktor ini seperti pegas yang melawan perubahan. Semakin besar induktansi (XL), maka semakin besar resistansinya.

Reaktansi Kapasitif (XC):

Sekarang, bayangkan kapasitor sebagai semacam penyimpan energi yang juga bisa menjadi resistansi terhadap perubahan. Kapasitor bekerja seperti spons yang menyerap dan melepaskan energi. Semakin besar kapasitansi (XC), semakin besar resistansinya.

Jadi,  baik XL maupun XC, menambah kompleksitas dalam menghambat atau memfasilitasi arus listrik tergantung pada sifatnya. Dalam istilah matematika, keduanya diukur dalam Ω(ohm), tetapi satu menggunakan nilai positif (XL) dan yang satunya menggunakan nilai negatif (XC) dalam rumus impedansi. Jadi, saat keduanya digabungkan dalam suatu rangkaian AC, kita mempertimbangkan bagaimana keduanya berinteraksi dan menciptakan suatu “resistansi” yang bersifat kompleks, yang kita sebut sebagai impedansi.

Reaktansi mempengaruhi Arus Dan Tegangan

Mari kita lihat bagaimana reaktansi memengaruhi arus dan tegangan dalam suatu rangkaian.

Arus (I):

Reaktansi, baik itu reaktansi induktif (XL) atau reaktansi kapasitif (XC), mempengaruhi besar dan fase arus dalam suatu rangkaian AC. Jika reaktansi induktif (XL) lebih besar dari reaktansi kapasitif (XC), maka fokusnya akan lebih pada sifat induktif, dan arus akan tertinggal dari tegangan. Ini berarti arusnya akan “mengendalikan” tegangan secara relatif terhadap fase. Sebaliknya, jika reaktansi kapasitif (XC) lebih besar, fokusnya akan lebih pada sifat kapasitif, dan arus akan “mendahului” tegangan.

Tegangan (V):

Tegangan dalam suatu rangkaian AC juga dipengaruhi oleh reaktansi. Jika reaktansi induktif (XL) lebih besar, maka tegangan akan tertinggal dari arus. Ini berarti bahwa tegangan akan mencapai nilai maksimumnya setelah arus mencapai nilai maksimum. Sebaliknya, jika reaktansi kapasitif (XC) lebih besar, tegangan akan mendahului arus, dan mencapai nilai maksimumnya sebelum arus mencapai nilai maksimum.

Jadi, reaktansi pada dasarnya memperkenalkan pergeseran fase antara arus dan tegangan dalam rangkaian AC. Ini adalah fenomena yang umum terjadi dalam rangkaian listrik yang melibatkan induktor dan kapasitor. Impedansi, yang merupakan kombinasi dari resistansi, reaktansi induktif, dan reaktansi kapasitif, berperan utama dalam menentukan bagaimana arus dan tegangan berinteraksi dalam rangkaian tersebut.

Manfaat “Efek” Reaktansi Untuk Sebuah Rangkaian

Efek reaktansi biasanya dimanfaatkan untuk rangkaian yang bagiamana tujuannya dibuat. Efek reaktansi, baik itu reaktansi induktif (XL) atau reaktansi kapasitif (XC), dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan dalam rangkaian listrik. Berikut adalah beberapa aplikasi umum:

Filtering (Pemfilteran):

Kapasitor dapat digunakan sebagai elemen pemfilteran untuk menyaring sinyal frekuensi tertentu. Reaktansi kapasitif (XC) meningkat dengan peningkatan frekuensi, sehingga kapasitor dapat melewatkan sinyal frekuensi tinggi dan memblokir sinyal frekuensi rendah. Ini umumnya diterapkan dalam rangkaian pemfilteran untuk menghilangkan noise atau sinyal interferensi.

Pembetulan Faktor Daya:

Dalam sistem tenaga listrik, terutama pada beban industri, perangkat elektronik seperti kapasitor dapat digunakan untuk meningkatkan faktor daya. Kapasitor dihubungkan secara paralel dengan beban induktif untuk mengimbangi reaktansi induktif dan meningkatkan faktor daya dari sistem. Ini membantu mengoptimalkan penggunaan energi dan meningkatkan efisiensi suatu sistem.

Induksi Elektromagnetik:

Reaktansi induktif dimanfaatkan dalam perangkat seperti trafo dan induktor untuk mentransfer energi magnetik dan mengubah tegangan. Transformer atau trafo, misalnya, menggunakan reaktansi induktif untuk mengubah tegangan listrik dari satu level ke level lainnya.

Penyimpanan Energi:

Kapasitor digunakan sebagai perangkat penyimpan energi dalam beberapa aplikasi. Hal ini dapat diisi dengan energi dan kemudian dilpaskan ketika dibutuhkan. Ini umumnya digunakan dalam sistem penyimpanan energi atau dalam aplikasi elektronik yang membutuhkan penyimpanan energi sementara.

Baca Juga :  Cara Kerja Kapasitor: Mekanisme, Jenis, dan Penerapannya

Koreksi Faktor Daya pada Motor Induksi:

Motor induksi cenderung memiliki faktor daya yang kurang optimal saat bebannya berubah. Dengan menambahkan kapasitor, maka reaktansi kapasitif digunakan untuk meningkatkan faktor daya motor dan meningkatkan efisiensi operasionalnya.

Pemanfaatan efek reaktansi ini memerlukan perencanaan dan pemahaman yang baik tentang karakteristik listrik rangkaian, serta kebutuhan khusus dari aplikasi tersebut. Dengan merancang rangkaian dengan memanfaatkan efek reaktansi, maka dapat mencapai tujuan tertentu dalam hal pengaturan sinyal, efisiensi energi, dan performa dari keseluruhan sistem.

Reaktansi Terkait Arus Listrik AC?

Reaktansi lebih khusus terkait dengan arus bolak-balik (AC). Reaktansi merupakan konsep yang muncul ketika kita mempertimbangkan perubahan arus terhadap waktu, yang khas dari arus bolak-balik.

Reaktansi Induktif (XL):

Terjadi karena komponen induktor. Induktor bekerja dengan prinsip perubahan fluks magnetik terhadap waktu. Ini lebih relevan dalam konteks arus bolak-balik, di mana fluks magnetik dapat berubah secara periodik, menghasilkan reaktansi induktif.

Reaktansi Kapasitif (XC):

Muncul dari komponen kapasitor, dan kapasitor menyimpan muatan listrik yang dapat berubah seiring waktu. Reaktansi kapasitif juga merupakan fenomena yang spesifik untuk arus bolak-balik di mana muatan dapat berubah secara periodik.

Dalam arus searah (DC), yang mengalir dalam satu arah tetap, konsep reaktansi tidak berlaku karena tidak ada perubahan arus terhadap waktu dalam konteks tersebut.

Jadi, reaktansi adalah konsep yang penting dalam analisis rangkaian AC, di mana arus dan tegangan berfluktuasi secara periodik.

Tetapi capasitor dan indukor juga diguakan dalam rangkaian DC?

Kapasitor dan induktor juga dapat ditemui dalam rangkaian searah (DC), meskipun dalam konteks ini reaktansi tidak relevan karena reaktansi terkait dengan perubahan arus terhadap waktu dalam arus bolak-balik (AC).

Kapasitor :

Meskipun kapasitor tidak memberikan reaktansi kapasitif seperti pada arus bolak-balik, kapasitor masih dapat digunakan pada rangkaian searah untuk menyimpan muatan listrik. Kapasitor pada rangkaian searah bekerja sebagai alat penyimpan energi yang dapat mengimbangi fluktuasi tegangan dan memperlambat perubahan tegangan.

Induktor :

Induktor dalam rangkaian DC tidak menyebabkan reaktansi induktif seperti dalam AC. Namun, induktor masih memiliki sifat hambatan terhadap perubahan arus. Induktor dalam rangkaian searah dapat digunakan, misalnya, untuk memperlambat peningkatan arus dalam sirkuit atau untuk menyimpan energi magnetik.

Jadi, meskipun kapasitor dan induktor bisa digunakan dalam rangkaian DC, tetapi konsep reaktansi tidak relevan dalam konteks ini. Reaktansi adalah sifat yang muncul khususnya dalam analisis rangkaian arus bolak-balik.

Hubungan Antara Resistansi dengan induktor dan kapasitor

Dalam suatu rangkaian listrik, resistansi (R), induktansi (L), dan kapasitansi (C) dapat saling berinteraksi, terutama dalam konteks rangkaian AC. Mari kita lihat beberapa hubungannya:

Rangkaian RL (Resistor dan Induktor):

Pada rangkaian RL, yang terdiri dari resistor (R) dan induktor (L), resistansi menghambat aliran arus sebagaimana mestinya. Induktor menyebabkan reaktansi induktif (XL), yang merupakan hambatan tambahan terhadap perubahan arus. Dalam rangkaian ini, tegangan dan arus mungkin tidak selalu berada dalam fase yang sama karena adanya reaktansi induktif. Impedansi total (Z) pada rangkaian RL: Z = R + jXL

Rangkaian RC (Resistor dan Kapasitor):

Pada rangkaian RC, yang terdiri dari resistor (R) dan kapasitor (C), resistansi (R) memberikan hambatan terhadap aliran arus. Kapasitor menyebabkan reaktansi kapasitif (XC), yang juga memberikan hambatan terhadap perubahan tegangan. Seperti pada rangkaian RL, tegangan dan arus dalam rangkaian RC juga mungkin tidak berada dalam fase yang sama karena adanya reaktansi kapasitif. Impedansi total (Z) pada rangkaian RC: Z = R + jXC 

Rangkaian RLC (Resistor, Induktor, dan Kapasitor):

Rangkaian RLC menggabungkan ketiga elemen: resistor (R), induktor (L), dan kapasitor (C).
Dalam rangkaian RLC, kita mempertimbangkan efek resistansi (R), reaktansi induktif (XL), dan reaktansi kapasitif (XC). Impedansi total dalam rangkaian RLC diberikan oleh formula: Z = R + j(XL – XC))

KETERANGAN  :

  • Z adalah impedansi total,
  • R adalah resistansi,
  • XL adalah reaktansi induktif,
  • XC adalah reaktansi kapasitif, dan
  • j adalah unit imajiner.

Jadi, resistansi, induktansi, dan kapasitansi dapat saling berinteraksi dalam suatu rangkaian, dan analisisnya dapat melibatkan perhitungan impedansi total yang mencakup kontribusi dari ketiga elemen tersebut.

Sudut Faktor Daya (Power Factor Angle)

Sudut faktor daya (Power Factor Angle) juga merupakan suatu konsep terkait dengan reaktansi dalam rangkaian AC. Sudut faktor daya (cos ϕ) menggambarkan pergeseran fase antara arus dan tegangan dalam rangkaian. Nilai faktor daya berkisar antara 0 hingga 1, dan sudut faktor daya diukur dalam derajat atau radian. Rumus umum untuk sudut faktor daya (ϕ) adalah: cos ϕ=Z/R, di mana R adalah resistansi, dan Z adalah impedansi total rangkaian.

Sudut faktor daya menentukan sejauh mana daya listrik “efektif” digunakan dalam suatu rangkaian. Sudut faktor daya dipengaruhi oleh hubungan antara arus dan tegangan dalam rangkaian AC. Nilai sudut faktor daya berkisar antara 0 hingga 1, dan faktor daya yang tinggi menunjukkan pemanfaatan daya yang lebih efisien.

Kesimpulan

Reaktansi adalah hambatan terhadap perubahan arus listrik dalam suatu rangkaian, khususnya dalam konteks arus bolak-balik (AC).

Resistansi diukur dalam ohm, adalah hambatan yang dialami arus dalam suatu rangkaian listrik. Konsep ini berkaitan dengan dissipasi daya dalam bentuk panas dan berperan penting dalam analisis sirkuit searah. Sebaliknya, impedansi adalah hambatan total dalam rangkaian arus bolak-balik (AC), terdiri dari resistansi, reaktansi induktif (XL), dan reaktansi kapasitif (XC). Dalam notasi kompleks, impedansi dapat diwakili oleh rumus Z=R+j(XL−XC).

Reaktansi induktif (XL) dan reaktansi kapasitif (XC) berkaitan dengan induktor dan kapasitor masing-masing, menyebabkan pergeseran fase antara arus dan tegangan. Rangkaian RL, RC, dan RLC adalah konfigurasi yang mengombinasikan resistansi dengan elemen-elemen induktor dan kapasitor. Analisis rangkaian melibatkan perhitungan impedansi total untuk memahami interaksi kompleks antara resistansi dan reaktansi dalam rangkaian listrik. Dengan demikian, konsep-konsep ini membantu merinci perilaku sistem listrik dalam berbagai konteks.

Leave a Reply