Watt RMS Vs PMPO, Apa Dan Bagaimana Cara Menghitungnya

Bagi Anda penyuka audio, istilah PMPO mungkin sudah tak asing lagi karena itu biasa tertera dalam spesifikasi produk audio system. Misalnya angka 1000nya ditulis dengan huruf yang besar sekali sementara huruf pmpo nya ditulis kecil sekali “1000 Watt pmpo” Sebagai orang awam mungkin akan berfikir, wow besar sekali wattnya, padahal pompa air saya saja hanya 300watt. Selanjutnya kebanyakan orang akan berfikir bahwa produk audio 1000watt  pastinya akan sangat besar dan suaranya tentu amatlah luarbiasa. Benarkah demikian?… Apakah 1000watt PMPO itu daya listrik yang sesungguhnya? atau daya apakah itu?.

Disini akan saya kupas itu secara sederhana dan gamblang. Anda nanti juga akan mengerti Daya Rms! Apa lagi itu?…. Lalu apa kaitannya dengan daya PMPO?… apakah itu juga sama dengan Watt pompa air saya? Kalau kamu tak membaca sampai habis, ditanggung pasti nyesel.. 😀

Kupas Habis tetang Daya PMPO dan daya Rms Power Amplifier

Watt RMS vs Watt PMPO

Rumus Menghitung Daya

Terjadinya daya listrik (P) (satuannya Watt/W) karena adanya tegangan yang satuannya Volt(V), dan adanya beban yang satuannya Ohm(R)). Dengan demikian untuk menghitung daya keluaran / Watt audio kita bisa menggunakan rumus P=V²/R. Misalnya saya ketahui tegangan output amplifer pada saat itu sebesar 50V dengan beban sebesar 8Ω. 50 Volt adalah tegangan output dari amplifier pada saat itu dan 8Ω adalah impedansi speaker yang saya pakai. Maka saya memasukkan kedalam rumus P=100²/8. Hasilnya diketahui P = 1250watt. Karena daya terjadi karena adanya tegangan(V), maka ketika saya menurunkan level volume maka tegangan ke beban (speaker) akan turun dan otomatis daya output juga turun; begitu juga sebaliknya.

Misalnya daya sebuah ampli dikatakan sebesar 1250watt rms, maka itu adalah daya puncak – dimana bisa terjadi kalau semua faktor terutama Catu Daya atau power supply memungkinkan. Contoh paling gampang : PCB yang dijual dipasaran tertulis Power OCL 400watt rms! Apa itu memang benar demikian? jawabnya belum tentu. Artinya rakitan itu memang bisa mengeluarkan daya puncak 400 watt rms, asalkan power supply, tr final, tegangan, speaker dan semua komponen dalam 1 sistem mendukung.

Penghitungan Watt dari sudut pandang RMS

Gelombang suara yang keluar dari output amplifer kita tidak terjadi secara konstan alias berubah-ubah sesuai dengan sinyal masukan atau sinyal input dalam hal ini suara musiknya. Ini disebut dengan sinusodial atau tegangan AC tidak tetap alias berubah-ubah.

Jadi dengan demikian, maka untuk mengukur output audio maka harus ada sinyal sinusodial pada inputnya supaya bisa mengetahui daya keluaran audio. Inilah standard yang digunakan untuk mengetahui daya sebuah perangkat audio. Tentu kita telah memahami bahwa audio amplifier adalah alat yang dibuat untuk bisa didengarkan manusia, maka frekswensi yang dimasukkan idealnya yang berada di range/kisaran angka 20Hz – 20Khz.

Jadi secara ideal ketika berbicara tentang audio maka pengetesan ini harusnya sinyal melibatkan semua sinyal audio yang berada dalam range frekwensi yang bisa didengar manusia tersebut, supaya hasil yang di klaim menjadi lebih fair. Misalnya dalam sebuah lagu, disitu terdiri dari berbagai frekwensi sinyal – ada sinyal frekwensi yang berasal dari gitar, tamborin, ketipung, bass, dll. Jadi kalau mengetes daya keluaran diawali dari input 1 frekwensi saja, maka itu tidak akan menjadi patokan WATT RMS sebuah amplifier yang sesungguhnya atau paling tidak mendekati.

Kemudian volume input akan ditingkatkan sampai terjadi distorsi pada gelombang outputnya atau clipping. Kecacatan sinyal ini bisa dilihat dengan osiloscop, dan kalau kita dengar pakai telinga melalui speaker maka kita menyebutnya nggembret atau suara pecah. Mungkin pernah memutar lagu, namun ketika kamu putar volumenya makin keras dan kemudian mendegar suara amplifier kamu menjadi semakin tak enak didengar – ini yang namanya cacat distrosi. Batas inilah yang dipakai sebagai acuan untuk menghitung daya keluaran maksimal sebuah sound system.
Kenapa terjadi clipping atau kecacatan distorsi ketika suaranya ditingkatkan misalnya? jawabannya sederhana, karena power supply yang kita pakai tak bisa mengakomodasi kebutuhan sistem audio termasuk speaker ketika sampai kepada volume maksimalnya. Maka artinya, ketika suara hampir mendekati cacat saat input dinaikkan maka itulah daya puncak(peak) yang bisa dihitung RMS-nya. Disisi lain karena tegangan output itu adalah sinyal sinusoidal yang sifatnya naik dan turun, maka itu tidak secara langsung kita sebut sebagai rating power audio kita. Untuk itulah disebut dengan DAYA RMS!. Semoga sudah paham dengan penjelasan saya sampai disini.

RMS merupakan kependekan dari Root Mean Square, dan kalau kita terjemahkan artinya melalui kamus artinya tidak ketemu, hehe.  Sederhanyanya saya sebut RMS adalah daya tegangan rata-rata akar kuadrat yang digunakan untuk mengukur kontinyunitas sinyal sinus berdasarkan distorsi output dengan toleransi yang tak lebih dari 1% untuk memperoleh angka yang sangat mendekati – namun pabrikan ada juga yang memakai toleransi pengujian 1% – 10%.

Lihat Juga :  Cara menghilangkan suara dengung-an power audio saat mesin mobil hidup

Penghitungan Watt dari sudut pandang PMPO

PMPO memiliki kepanjangan Peak Music Power Output. Kalau di terjemahkan kurang lebih artinya  Kekuatan Keluaran Musik Puncak. Lalau Apa artinya? saya sendiri tidak bisa menjelaskan itu secara detail sekali. Itu tak begitu penting, yang jelas PMPO diukur dengan cara memberikan sinyal masukan secara sangat singkat yang berupa sinyal kejut 1Khz dalam waktu sekitar 10 milidetik saja pada distorsi output yang besar yaitu 10%. Jika menggunakan cara pengukuran seperti ini tentu saja tegangan puncak dapat menjadi sangat tinggi tanpa cacat distorsi. Alasannya karena sinyal cuma satu frekwensi yaitu 1Khz dalam waktu yang sangat singkat dengan toleransi sangat besar yaitu 10%.

Dengan demikian bisa dijelaskan bahwa penghitungan PMPO tak akan mungkin bisa menunjukkan Daya Power Ampli yang sesungguhnya. Dan secara teori PMPO dikatakan bisa mencapai 4  kali lipat dari daya sesungguhnya, namun pada faktanya bahkan bisa ditulis 10-4 kali lipat dari daya sesungguhnya!

Dengan demikian PMPO tidak bisa dijadikan standard, bahkan banyak ahli yang bilang bahwa PMPO hanyalah trik  pemasaran belaka – artinya biar orang tertarik dan produk audio tersebut laku keras karena terlihat seolah-olah memiliki spesifikasi yang sangat gahar dengan harga murah 😀 . Tak hanya itu, PMPO juga biasanya ditotal per-channel. Misalnya sebuah ampli stereo, yang channel R wattnya dihitung secara PMPO adalah 50Watt, dan yang L juga 50 Watt maka dalam buku spesifikasi akan ditulis 100Watt PMPO. 😀

Kesimpulan RMS Vs PMPO

Pada akhir kata bisa kita ambil sebuah kesimpulan bahwa tidak ada penghitungan daya amplifier yang 100% tepat. Namun RMS adalah penghitungan daya yang sudah diakui secara internasional sehingga merupakan satu-satunya yang paling bisa dipercaya. Sementara PMPO adalah penghitungan daya yang sama sekali tidak bisa dijadikan pedoman alias tak menggunakan standard penghitungan daya yang baku.

Misalnya anda memiliki amplifier 1000watt stereo, maka bisa jadi daya sesunggunya adalah 100watt rms yang kalikan sebanyak 10 kali lipat. Untuk itu sebaiknya teliti sebelum membeli, dan jangan lupa pakailah sesuatu sesuai dengan kebutuhan Anda.

Lalu apa gunanya hitungan RMS?

Sudah dijelaskan diatas RMS adalah metode menghitung untuk menyimpulkan daya puncak keluaran power ampli yang paling mendekati daya output sesungguhnya. Biasanya ini dipakai pabrik untuk menunjukkan seperti apa spesifikasi daya dari produk audionya. Biasanya pabrik pakai angka % untuk menjelaskan batas toleransi cacat distorsi yang dipakai, umumnya 1% – 10%. Semakin kecil %nya, maka itu yang paling mendekati.

Lalu bagaimana cara saya untuk menghitung daya keluaran ampifier rakitan? jika kamu pengen tahu daya keluaran rms ampli rakitan kamu, kamu bisa menghitung daya diatas secara sederhana(seharusnya pakai osiloscop). Kita akan acuan P=V²/R.

Putar speaker kamu sampai mendekati batas cacat distorsi (sebenarnya ini sulit kalau pakai telinga), tapikita pakai perkiraan saja sampai sebesar apa volume suara kita naikkan dan suara audio masih jernih. Untuk menemukan V(tegangan), ukur tegangan output power pakai AVO posisi tegangan AC tandai seberapa maksimal voltasenya. Misalnya diketahui 20V AC, dan speakernya 8Ω maka masukkan kedalam rumus P=20²/8, maka P= 50 watt. Hasilnya akan diketahui 50 watt, tapi itu angka kisaran dan bukan benar-benar sebagai daya sesungguhnya, tapi setidaknya paling mendekati dan sah kita ucapkan kepada kawan kita “Owh, ternyata daya amplifier saya 1000watt.”

Daya tentu dipengaruhi oleh arus juga. Jadi misalnya volume masih setengah tapi suara sudah cacat, maka bisa disimpulkan bahwa ada yang tidak beres. Dengan asumsi frekwensi inputnya normal, maka hal itu kemungkinan besar arus kurang mencukupi(ampere supply kurang besar) karena daya secara matematis juga dihitung dengan rumus P=V.I, P=I²R. Lalu kalau trafonya sudah besar, tapi suaranyanya pecah, pelan atau cacat, maka bisa jadi speakernya terlalu besar sehingga spesifikasi tr final tak mendukung? Power supply, rangkaian driver, spesifikasi tr final, dan speaker adalah satu kesatuan system yang tak bisa terpisahkan. Semuanya harus seimbang sehingga bisa saling mendukung untuk mendapatkan kualitas audio yang diharapkan. Efisiensi sebuah power amplifier juga perlu diperhitungakan, misalnya power class D lebih efisien dari class A/B

Lalu bagaimana cara menghitung PMPOnya?… Kalau ini saya rasa nggak perlu, lha wong itu bukan standar penghitungan daya yang baku. 😀

Advertisement

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *